Banyak studi yang mengungkapkan bahwa menerapkan prinsip psikologi dalam strategi pemasaran berpengaruh secara signifikan untuk menarik lebih banyak pelanggan yang berujung pada penjualan yang meningkat. Sebab pada dasarnya perilaku konsumen terkait erat dengan psikologi manusia secara mendasar.  Karena itu pula, kini ilmu psikologi marketing dan penerapannya menjadi semakin penting perannya pada sebuah bisnis.

Akan tetapi, perilaku manusia sebagai konsumen sesungguhnya sangatlah kompleks. Mungkin butuh waktu lama bagi Anda untuk memahami sepenuhnya tentang bagaimana manusia bekerja. Namun, berdasarkan studi kasus dan riset-riset terdahulu telah menemukan beberapa penerapan psikologi yang efektif untuk pemasaran yang lebih baik. 

Khusus untuk Anda, kami telah merangkum contoh prinsip psikologi marketing dan penerapannya. 

Prinsip Dasar Psikologi Marketing dan Penerapannya

1. Social Proof

Social proof atau bukti sosial adalah sebuah konsep yang menjelaskan bahwa seseorang umumnya akan mengadopsi sebuah tindakan atau pandangan terhadap sesuatu berdasarkan sekelompok orang yang mereka percaya atau suka. Contohnya, seorang gadis remaja akan berusaha membeli barang-barang yang penyanyi idolanya pakai atau beli. 

Salah satu penerapan konsep social proof pada marketing adalah endorsement yang dilakukan influencer media sosial. Kini kita sudah hidup di era internet, sangatlah mudah seseorang untuk menilik kehidupan kelompok orang yang mereka suka atau idolakan dengan melihat post-post di Instagram atau Twitter. Karena kemudahan ini, semakin besar juga kecenderungan seseorang untuk membeli barang yang digunakan atau disukai oleh idola mereka. Hal ini lah yang menjelaskan kenapa endorsement yang dilakukan influencer-influencer di media sosial begitu besar pengaruhnya dalam meningkatkan penjualan sebuah produk. 

2. Kelangkaan 

FOMO atau fear of missing out adalah sebuah fenomena yang akhir-akhir ini sering digunakan untuk mendeskripsikan orang-orang yang tidak pernah mau ketinggalan dari trend-trend paling terbaru. Meskipun istilah ini terbilang baru, sesungguhnya sudah banyak studi yang mempelajari tentang sifat manusia yang tidak ingin ketinggalan. 

Menurut para ahli, alasan kenapa orang-orang mengalami FOMO adalah karena perasaan tertinggal dari tren yang tengah berlaku menyebabkan seseorang merasa takut tidak akan dianggap oleh banyak orang. Rasa takut ini akan berujung pada emosi-emosi negatif lainnya.

Berangkat dari konsep ini, prinsip scarcity atau kelangkaan pun menjadi salah satu penerapan psikologi pada marketing yang seringkali digunakan. Pada dasarnya, prinsip ini berfokus kepada pembatasan ketersediaan produk sehingga produk menjadi langka. Kelangkaan dari produk ini pun membuat produk menjadi terkesan eksklusif karena hanya segelintir orang yang dapat memilikinya. Alhasil, khalayak umum pun semakin ingin untuk memiliki barang tersebut sehingga demand menjadi semakin tinggi. 

Contoh sempurna dari trik ini adalah pakaiaan-pakaian dengan merk high-end. Dengan menjual ekslusifitas, brand-brand ternama ini tetap laku di pasaran tak peduli semahal apapun harganya.

Demikian adalah beberapa dari banyak prinsip psikologi marketing dan penerapannya. Dengan memahami  bagaimana manusia berfikir dan berperilaku, Anda dapat menyusun strategi marketing yang efektif dan efisien. 

3. Timbal Balik 

Jika seseorang melakukan sesuatu untuk Anda, maka akan muncul keinginan Anda untuk melakukan sesuatu kepada orang tersebut sebagai balasan. Konsep ini dijelaskan lebih lanjut pada buku The Psychology of Persuasion yang dituliskan oleh Dr. Robert Cialdini. 

Cialdini pun menjabarkan bagaimana konsep ini dapat diterapkan pada sebuah bisnis dan dapat berpengaruh positif secara signifikan. Apabila Anda memberikan freebies atau bonus pada setiap produk yang seorang konsumen itu beli, maka konsumen tersebut akan merasa diistimewakan oleh Anda. Sebagai timbal balik, konsumen tersebut akan selalu membeli barang pada Anda atau bahkan merekomendasikan ke teman dan keluarga. 

“Pemberian” ini tidak harus berupa sebuah hadiah, gesture-gesture yang dapat membuat konsumen merasa diistimewakan seperti mengingat nama lengkap konsumen atau menyelipkan kartu dengan tulisan tangan pada setiap transaksi juga dapat membuat konsumen merasa seperti mendapat perlakuan khusus. 

4. Loss Aversion 

Prinsip loss aversion merujuk kepada keengganan orang untuk kehilangan sesuatu. Seseorang biasanya memiliki perasaan kesal yang kuat ketika kehilangan sesuatu meskipun nilai barang yang hilang tersebut tidak seberapa. Hal ini disebabkan karena rasa kehilangan erat kaitannya dengan emosi-emosi negatif sehingga banyak orang tidak suka merasakan kehilangan. 

Prinsip loss aversion mirip dengan kelangkaan namun memiliki fokus yang berbeda. Kelangkaan lebih berfokus kepada keterbatasan pada ketersediaan barang, sedangkan loss aversion lebih berfokus kepada hilangnya sebuah penawaran atau kesempatan yang membuat konsumen menjadi terdorong untuk membeli produk secepatnya. Contoh penerapan prinsip ini adalah dengan menerapkan promo free delivery pada waktu tertentu pada saat menjualkan barang. Dengan membatasi waktu promosi, orang-orang akan berpikir bahwa mereka akan merugi apabila melewatkan periode ini. Akhirnya mereka pun langsung akan berbondong-bondong membeli produk tersebut meskipun biaya yang berkurang tidak terlalu besar.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini