Suka camilan? Anda pasti sudah mengenal camilan berbahan dasar makaroni. Namun, bagaimana dengan camilan bernama “Makaroni Ngehe”? Jika belum pernah mendengar nama itu, Anda perlu mengetahui cerita menarik di belakangnya.

Bisnis camilan makaroni ini dibangun oleh Ali Muharam. Pria berusia 31 tahun itu memulai bisnisnya dari nol pada tahun 2013. Setelah mendapatkan pinjaman sebesar 20 juta rupiah dari teman-temannya, ia menyewa sebuah toko di kawasan Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Dari toko itu, usaha dengan omzet tiga miliar rupiah ini dimulai.

Baca juga: Perjalanan Pisang Goreng Bu Nanik Menuju Sukses

Perjalanan Bisnis Makaroni Ngehe


Awalnya, ia menjalankan usahanya sendiri di outlet pertama bernama Makaroni Ngehe Meruya. Dengan modal terbatas, ia menjalankan usaha itu sendiri. Semua kegiatan seperti membuka toko, berbelanja bahan baku, melayani pembeli, dan memasak dia lakukan sendiri.

Dia juga tidur di toko yang berukuran 2×3,5 meter tersebut. Hal ini dilakukan untuk menekan biaya pengeluaran seperti biaya transportasi atau biaya sewa rumah. Pasalnya, dia harus mengembalikan modal pinjamannya dengan cara mencicil setiap bulan.

Di sana, dia menjalankan semuanya sendiri termasuk mengonsep toko hingga mengambil bahan baku. Ketika mengambil bahan baku, ia harus menutup toko. Bahan baku didatangkan jauh-jauh dari Tasikmalaya.

Untuk mendatangkan bahan baku, Ali harus terlebih dahulu menelepon pemasok. Setelah itu, makaroni dikirimkan menggunakan bus dan diturunkan di terminal Lebak Bulus. Untuk mengangkut bahan baku sebanyak itu, ia harus menyewa angkot dan mengangkat semua makaroni itu ke dalam angkot sendirian. Proses penjemputan yang memakan waktu dan tenaga ini membuat outlet-nya sering tutup.

Di dalam toko yang sempit itu terdapat peralatan memasak seperti penggorengan, kompor, dan berbagai bahan baku. Setelah toko tutup pukul 10 malam, ia membersihkan lantai dari lumuran minyak dan kotoran lain. Lalu, di sanalah ia tidur beralaskan kertas roti dan tumpukan selimut setiap hari.

Kesuksesannya Saat Ini


Seluruh pengalaman itu tak pernah ia lupakan hingga saat ini. Setiap hambatan merupakan bagian dari seluruh cerita suksesnya. Dari berjualan makaroni di satu toko tersebut, Ali mendapatkan omzet sebesar Rp30.000 per hari. Saat ini dengan 30 toko, angka tersebut telah berkembang menjadi miliaran per bulan. Toko-tokonya tersebar di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, Bandung, dan Yogyakarta mampu menghabiskan 30 ton makaroni setiap bulannya. Luar bisa, bukan?

Dari seluruh pengalaman membangun bisnis ini, Ali puas dengan semuanya. Ia bahagia karena dapat membuka lapangan pekerjaan bagi 400 orang yang telah menjadi pegawainya sekarang. Ia juga telah membuka cabang baru bernama Makaroni Ngehe Premium. Cabang tersebut berada di mal atau pusat perbelanjaan di Jakarta dan Yogyakarta.

Perihal penentuan nama merek sendiri, Ali mempunyai cerita. Nama “Makaroni Ngehe” dipilih berdasarkan cerita hidupnya sebelum membangun bisnis ini. Kehidupannya sangat memprihatinkan yang ia sebut sebagai “ngehe”. Selain itu, kata tersebut terkesan sederhana, tetapi memiliki arti yang kuat dan mudah diingat.

Perjalanan Karier Sebelum Sukses


Sebelum mulai berbisnis, Ali telah mencoba berbagai jenis pekerjaan. Ia memulai karier sebagai seorang office boy. Ia juga pernah menjadi pedagang makanan dan penjaga toko baju.

Dari perjalanan kehidupannya itu, ia pernah mengalami kelaparan hingga harus minum dari air keran dan tidak memiliki tempat tinggal. Ia juga tidak lepas dari pengalaman dimaki atasan dan diolok-olok di depan orang banyak. Namun, ia menganggap semua itu sebagai jalan yang harus dilalui untuk mencapai kesuksesan.

Hal yang dapat dipetik dari cerita tersebut adalah agar kita tidak pantang menyerah dan percaya pada apa pun yang diyakini. Ali tidak jarang mendapatkan pandangan sebelah mata dan ragu dari orang lain akan usahanya. Namun, ia mengubah pandangan tersebut menjadi motivasi untuk semakin gigih bekerja. Setiap bertambahnya waktu ia bertambah tekun dan semakin ingin membuktikan bahwa ia pasti akan sukses dengan bisnisnya.

Tentunya cerita di atas dapat Anda jadikan motivasi untuk membangun bisnis. Setiap ide bisa menjadi ladang yang menghasilkan asal Anda tekun dan melakukan pemasaran dengan baik. Yang terpenting adalah tetap menjalankan bisnis sebaik mungkin tanpa memedulikan omongan orang lain.

Kesuksesan dan kegagalan dalam bisnis adalah hal yang dapat dimaklumi. Namun, sebaiknya kegagalan tersebut bukan karena keraguan dari orang lain. Betapa banyak kegagalan dalam bisnis yang disebabkan oleh mendengarkan keraguan dari orang yang tidak tahu apa-apa tentang bisnis. Semoga cerita ini dapat memberikan ilmu bagi Anda untuk terus gigih membangun bisnis tanpa mendengarkan pendapat orang lain.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here